Hungry Minds

Hungry

Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever”. (Mahatma Gandhi)

Mendengar istilah “hungry”, pikiran saya otomatis langsung merujuk pada keinginan untuk melahap makanan. Kebutuhan fisiologis yang satu ini merupakan kebutuhan dasar yang tidak pernah ada habisnya. Kendati kita sudah makan berat 1 jam yang lalu, ketika ada makanan yang tersajikan, kita tetap ingin menyantapnya (hingga kerapkali disebut dengan “Lapar Mata”’). Bahkan ada istilah “kalau belum makan, belum bisa mikir” sehingga kita tergerak untuk mencari makanan dan segera melahapnya sehingga kita bisa kembali berkonsentrasi dalam bekerja.

Sama dengan istilah hungry yang identik dengan pemenuhan kebutuhan makanan, istilah “hungry” pada salah satu chapter “Menjadi Warga Dunia” karya Ibu Eileen Rachman, merupakan rasa “lapar” terhadap ilmu, pengalaman, atau hal-hal baru yang membuat kita semakin ‘tumbuh berkembang’. Rasa lapar terhadap hal-hal baru mendorong kita untuk mencari asupan ilmu yang dapat memenuhi rasa penasaran. Kita bergerak mencari ilmu atau pengetahuan serta membuka diri terhadap hal-hal baru untuk self-fulfillment.

Ilmu atau pengetahuan itu sendiri merupakan sesuatu yang perlu kita jemput. Tidak serta merta dengan kita berdiam diri, maka ilmu bisa datang dengan sendirinya. Pada dasarnya, ilmu itu ada dimana-mana, selama kita berupaya mencarinya. Tak disangka dengan berbincang serta bertukar pendapat dan pengalaman dengan rekan kita (yang tentunya bukan bergunjing), kita bisa memperoleh pengetahuan baru dan insight tertentu yang bermanfaat positif bagi diri kita. Saat ini buku bukan lagi satu-satunya jendala dunia bagi kita. Di zaman serba digital, dengan akses internet yang kita miliki pada gadget serta ditunjang dengan ketersediaan free wifi di berbagai area, kita bisa dengan mudah mencari berbagai informasi positif yang bermanfaat, sekaligus menjawab rasa keingintahuan kita pada hal-hal baru.

Dengan membuka diri pada hal-hal baru dan terus menerus belajar, sebagai bagian dari organisasi, memudahkan kita untuk beradaptasi terhadap perubahan maupun tuntutan penugasan yang menantang. Kecenderungan mudah puas terhadap hal yang dianggap sudah kuasai membuat kita berdiam diri, sementara rekan-rekan kita yang lain bergerak maju agar selaras dengan perusahaan. Menjadi pribadi yang Stay Foolish mendorong kita untuk mencari tahu, terbuka pada pengetahuan dan pengalaman baru, serta terus menerus mempelajari hal baru untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari segi hardskill maupun softskill.

Pada tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk terus merasa ‘lapar’ terhadap hal-hal baru, baik pengetahuan dan pengalaman, yang bisa membuat kita terus berkembang sebagai pribadi berkualitas. Keluar dengan zona nyaman merupakan kesempatan bagi diri kita dalam melihat, merasakan, dan mengalami hal-hal baru.di luar rutinitas. Salah satunya, Anda bisa terbuka terhadap tugas atau masalah baru di lingkup kerjanya. Memang proses awalnya akan terasa berat, karena ketidaktahuan kita pada tugas atau masalah yang baru dan tidak familiar. Namun dengan kemauan yang kuat dan upaya untuk terus belajar, sumber daya yang Anda miliki akan semakin bertambah sehingga Anda mampu menjawab tantangan penugasan atau masalah yang diberikan.

VN:F [1.9.16_1159]
Rating: 9.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.16_1159]
Rating: 0 (from 0 votes)
Hungry Minds, 9.0 out of 10 based on 2 ratings

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>