<meta http-equiv="refresh" content="1; URL=http://jobs.experd.com/noscript.html">

LATEST JOB

JOBS ADVERTISEMENT
Marketing and Communication Officer
Bachelor
EXPERD CONSULTANT
DKI Jakarta
19-Mar-15
Product Consultant
Bachelor
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Accounting Staff
Bachelor
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Administration Staff
Diploma 3
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Finance Staff
Diploma 3
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Purchasing Staff
Diploma 3
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Drafter
High School
Decorous Contract
DKI Jakarta
19-Mar-15
Perangkai Bunga
High School
PT Nirmala Agung
DKI Jakarta
08-Mar-15
Executive Project
Diploma 3
PT Nirmala Agung
Bali,DKI Jakarta
05-Mar-15

JOBS ANNOUNCEMENT

POLLING

LOBBY

Eileen Rachman
on 02 Mar 2015

Gemerlap piala Oscar baru saja kita saksikan sebagai puncak reputasi yang didambakan setiap artis di dunia sebagai hasil kerja keras mereka. Bagi Hollywood ini juga merupakan puncak acara terpenting bagi kelangsungan bisnis dan prestise perfilman, sehingga baik nominasi dan penjurian dilakukan secara serius dan apik. Namun kita sering pula mendengar selentingan-selentingan miring mengenai bagaimana para juri yang dipersuasi oleh pemain maupun produser film dalam membuat penilaian. Hal inilah yang kemudian diantisipasi oleh para petinggi perfilman dengan membuat batasan-batasan untuk menjamin objektivitas penilaian mereka. Semisal, melarang insan – insan perfilman yang terlibat untuk tampil di undangan – undangan seperti jamuan makan maupun promosi film yang akan dikompetisikan. 
Read More >>

NYALI

Eileen Rachman
on 23 Feb 2015

Kita bisa saja merasa sedikit ‘kecele’ ketika menyaksikan seorang pemimpin yang nampaknya tenang dan low profile, ternyata mampu menghadapi kekerasan tekanan yang ia alami. Kita merasa bahwa pemimpin yang lembut pasti sulit mempunyai kekuatan memoderasi hal hal  bertentangan yang harus dipilih atau di menangkan. Contohnya  pada saat seorang pemimpin harus merekrut atau memberhentikan seorang pejabat yang tidak memenuhi syarat, kita melihat bahwa tugas pemimpin adalah memilih diantara 2 pihak yang bertentangan, atau menyeimbangkannya. Tetapi, apakah kenyataan yang dihadapi pemimpin sesederhana itu? Apa yang terjadi ketika harus mengambil keputusan namun tidak ada orang di sekitar kita yang cukup dapat dipercaya untuk bebas bertukar pikiran lepas dari konflik kepentingan? Bagaimana mengantisipasi hal hal yang sulit dikontrol sebagai akibat pengambilan keputusan kita? Apa yang harus dilakukan  bila ternyata berpegang pada prinsip saja tidak cukup? Apa yang harus dilakukan, bila kita ternyata dianggap  tidak bisa memegang janji kita?  Bagaimana kita menyikapi situasi pengambilan keputusan yang juga diwarnai konflik-konflik lain serta beragam situasi eksternal yang tidak menguntungkan lainnya, seperti harga minyak yang turun, ataupun nilai rupiah yang merosot? Bukankah pemimpin ketika menghadapi situasi begini harus benar benar kuat mendengar hati nurani, kuat berfikir, berstrategi, kuat emosi, bahkan juga kuat fisik? Bagaimanakah proses seorang pemimpin sampai bisa dinilai sebagai pemimpin yang arif oleh seluruh pengikutnya?
Read More >>

CUACA

Eileen Rachman
on 16 Feb 2015

Cuaca yang benar benar mematahkan hati baru saja terjadi lagi di Jakarta. Seseorang harus bertahan  terjebak dalam mobil di atas jalan tol selama 12  jam tanpa bisa berbuat apa apa. Seorang ibu berusia 70 tahun, harus berjalan beberapa jam mengerobok banjir menyusuri rel kereta untuk mencapai rumahnya yang juga kebanjiran. Bila hal ini terjadi pada diri kita, apa reaksi kita dengan situasi ini?  Banjir di Jakarta sudah ada sejak abad ke 5 .   Pada jaman Belanda pun sudah diupayakan berbagai hal untuk menanggulanginya. Kenyataan bahwa permukaan tanah di Jakarta memang sangat rendah, di mana kali Ciliwung bermuara, sementara air pasang juga tidak dapat dikendalikan adalah kenyataan yang tidak bisa diingkari oleh siapapun. Kecepatan surutnya air yang sudah mulai terlihat menandakan , bahwa besar kemungkinan usaha-usaha yang dilakukan pemerintah DKI mulai  ada hasilnya mengatasi gejala alam tahunan ini. Hal yang menonjol dan sulit diatasi adalah frustrasi penduduk Jakarta, dan reaksi salah menyalahkan di antara kita sehingga kesalahan tidak berfokus pada hal yang jelas-jelas bersifat eksternal dan tidak terprediksi ini.  Kita bisa menyalahkan BMKG yang tidak membuat prediksi yang tepat. Bisa juga menyalahkan sampah, atau penjaga pintu air yang salah  membuka tutup pintu banjir kiriman dari pegunungan, menyalahkan pemasok listrik yang tiba-tiba macet, ataupun berbagai pihak yang membuat banjir kanal mampat. Yang jelas, banjir yang sudah jelas-jelas datang setiap tahun tak pernah ditantang dan disambut dengan kesiapan, baik teknis maupun mental. Siapa sih yang tidak tahu : “Life is uncertain, the future unknown”? Mengapa ada orang yang tinggal di daerah banjir sudah mempunyai ancang ancang, dengan menyediakan pompa air, gardu listrik jauh di atas permukaan tanah, dengan rakit buatan yang bisa dipergunakan kapanpun diperlukan. Sementara itu ada mereka yang tidak berdaya, tidak mempunyai persediaan air bersih dan seolah hanya bisa bereaksi terhadap ketidak pastian ini? Ada yang hanya bereaksi, tetapi ada yang beraksi secara kreatif. Ada yang ‘survive’ ada yang gagal sebelum berusaha. Ada yang puas telah sukses, ada yang meneruskan perjuangan untuk mengantisipasi keadaan berikutnya. Jadi ada beberapa individu yang bisa mengatasi keadaan eksternal, bahkan berani menerjang kesulitan yang dihadapinya. Banyak perusahaan juga mengalami badai yang hebat seperti ini.  Pada tahun 1972 – 2002 Southwest Airlines mengalami krisis bahan bakar, perubahan aturan penerbangan, masalah tenanga kerja dan resesi. Ancaman kebangkrutan berada di depan mata. Bukankah ini sama dengan kebanjiran yang melumpuhkan aktivitas kita? Apa yang terjadi pada Southwest ? Mereka menerjang terus kesulitan,  dan melalui pelayanan karyawan yang  ‘all out’ mereka bisa bangkit kembali dan merajai dunia penerbangan ‘lowcost’ . 
Read More >>

EKSPEDISI

Eileen Rachman
on 09 Feb 2015

Andaikata bisa diedarkan  mesin pengukur ‘mood’  di seputar kita, maka hari-hari ini kita pasti banyak mendapati rapor yang di penuhi angka merah. Banyak penyebab mood merosot belakangan ini. Bagi sebagian orang larangan untuk terbang dengan kelas bisnis di pesawat sudah menurunkan mood. Bahkan kenaikan gaji dapat menyebabkan orang merasa khawatir dengan cara remunerasi yang menantang. Harga saham yang merosot, perdagangan yang mengalami beberapa tantangan baru, buah impor yang diragukan, ikan laut yang diformalin membuat orang semakin galau. Banyak perusahaan berada dalam keadaan ‘wait and see” , dan  keputusan berkembang  tidak diambil dulu. Situasi politik yang seolah-olah hampir ‘meledak’ membuat orang bahkan tidak mau membuka mata melihat situasi yang sebenarnya. Harapan untuk keadaan yang lebih baik seolah memudar dan  membuat orang bertanya-tanya, apakah perubahan yang diharapkan ini ternyata impian belaka? Bahkan para optimis pun tiba-tiba menyatakan kekhawatirannya. Sebenarnya, bukankah kita ingat bahwa setiap perubahan pasti mengalami turbulensi? Kita tahu bahwa pergantian pemimpin di mana pun juga akan membawa dampak perubahan. Pemimpin bisa mempunyai visi yang kita setujui dan menggambarkan harapan yang lebih cerah dalam kehidupan kita. Namun seringkali pada kenyataannya, perubahan yang kita harapkan tidak segera datang,  bahkan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak terduga dan bahkan dapat menimbulkan frustrasi. Seseorang menulis di akun sosial medianya, ”Ingin rasanya tidur lebih panjang dan ketika terjaga, pemerintah sudah lebih baik.” atau “ Malas rasanya menyaksikan perseteruan politik yang tidak berujung. Aku ingin menutup diri dan tidak membaca perkembangannya lagi”. Sadarkah kita bahwa jalan yang kita lalui memang terjal dan berliku? Apalagi bila perubahan yang dibuat cukup drastis perbedaannya. Kita sedang dalam perjalanan perubahan macam-macam:  Dari era cetak ke digital;  Dari uang kertas ke uang elektronik;  Dari serba korupsi  ke anti korupsi. Apakah hal ini mudah terlaksana? Apakah kita akan menutup mata dan tidak mau tahu, bila ada halangan? 
Read More >>