<meta http-equiv="refresh" content="1; URL=http://www.experdfresh.com/noscript.html">

LATEST JOB SHOW DATABANK

JOBS ADVERTISEMENT
All Positions
Diploma 3
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
Java Developer

PT. Sarana Exhirindo (Experd)
DKI Jakarta
02-Oct-15
Research and Development Staff
Bachelor
PT. Sarana Exhirindo (Experd)
DKI Jakarta
02-Oct-15
Recruitment Officer
Bachelor
PT. Sarana Exhirindo (Experd)
DKI Jakarta
02-Oct-15
Product Specialist
Diploma 3
PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
CRO Industrial Project
Diploma 3
PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
CRO PLN Project
Bachelor
PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
Indutrial Relation Manager
Bachelor
PT. GAC Samudra Logistics
all
05-Sep-15
FINANCE MANAGER
Bachelor
Decorous Contract
DKI Jakarta
27-Oct-15
Site Manager
Bachelor
Decorous Contract
DKI Jakarta
23-Oct-15

DATABANK

JOBS ADVERTISEMENT
Sales & Marketing (SLS/MKT)
High School

all
16-Mar-16
Frontliner (FO)
Diploma 3

all
16-Mar-16

POLLING

KARIER

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 31 Aug 2015

Banyak dari kita yang mungkin masih menganalogikan karir sebagai sebuah tangga. “si A sudah jadi manajer sekarang”. “Masih muda begitu sudah menjadi direktur” atau “ Si C sudah 5 tahun di perusahaan itu tidak naik-naik." Demikian beberapa pandangan umum mengenai karir. Kita pasti setuju bahwa karir memang harus menanjak. Para profesional berusaha mendapat pekerjaan yang lebih penting dan bergengsi, upah yang lebih tinggi dari tahun ke tahun. Siapa yang tidak menginginkan nafkah yang cukup, hidup dan pekerjaan yang bermakna selama usia produktifnya? Tetapi, apakah kita masih bisa merealisasikan pandangan ini, pada saat perubahan terjadi terlampau cepat seperti sekarang? Perusahaan-perusahaan "b​lue chip” yang relatif stabil di pasar saham, tiba-tiba tidak bisa menahan anjloknya harga saham. Banyak perusahaan yang mendadak raib dari permukaan, sementara serbuan dari perusahaan-perusahaan dotcom tidak terbendung. Pengaruh dan perubahan teknologi yang kuat ini pasti berpengaruh pada jalan karir, sehingga karir sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai garis lurus yang menanjak. Tidak satupun orang yang bisa meramal arah evolusi masa depan. Demikian juga dengan karir. Tidak cukup keyakinan bahwa selama kita bersekolah dengan baik, otomatis akan sukses di tempat kerja. Kenyataannya, banyak sekali kesulitan yang dialami oleh para fresh graduate untuk mendapatkan pekerjaan yang diimpikan. Individu yang sudah berada di dalam perusahaan pun banyak yang tidak puas dengan karirnya padahal merasa sudah bekerja keras. Para ahli manajemen sekarang ini menggambarkan perjalanan karir dalam beberapa fase.
Read More >>

AYO KERJA

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 24 Aug 2015

Berbagai tindakan strategis tampak diupayakan oleh pemerintah untuk mendorong perbaikan. Mulai dari memberi arahan, blusukan sampai kepada reshuffle kabinet yang baru-baru ini dilakukan. Namun tampaknya perubahan yang diharapkan tak kunjung terasa.  Dalam pelaksanaannya  masih banyak hal yang belum, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Kita sadar bahwa di balik ajakan “Ayo kerja” yang cukup gamblang, kondisi lapangan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Namun apakah fakta-fakta tersebut bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa? Kita jadi bertanya-tanya, mengapa perubahan demikian lambat? Apakah kondisi lapangan yang demikian kompleks bagaikan benang kusut membuat para pelaksana seperti mengalami learned helplessness? Kita juga melihat hal serupa di organisasi-organisasi yang sudah lama berdiri. Ketika organisasi baru seperti start-ups mampu menembus persaingan dan melesat maju, perusahaan-perusahaan lama yang sudah memiliki jajaran manajemen yang ahli dan berpengalaman malah seperti jalan di tempat. Apakah ini berarti bahwa tidak setiap lapisan manajemen tahu apa yang dikerjakan dan mau mengerjakannya dengan cepat dan tepat? Apakah manajemen puncak hanya bisa terkaget-kaget pada saat hari evaluasi tiba dan ternyata rapor merah yang didapat?  
Read More >>

KEPRIBADIAN ORGANISASI

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 18 Aug 2015

Beberapa waktu lalu di berbagai jejaring sosial, kita menyaksikan wajah-wajah gembira peserta reuni akbar sebuah bank internasional terbesar. Meskipun banyak di antara peserta reuni tersebut mungkin bahkan sudah bekerja di bank lain yang notabene merupakan kompetitornya, namun masih terbersit rasa cinta terhadap organisasi yang membesarkannya itu. Momentum reuni bisa jadi disamakan dengan cinta lama bersemi kembali (CLBK). Kita banyak merasa adanya ikatan emosional dan tidak tahu penyebab yang membuat kita tidak bisa melupakan institusi tersebut, lepas dari alasan yang membuat sesorang harus meninggalkan organisasinya; yang bisa karena hubungan yang sudah tidak harmonis lagi, bisa karena kebutuhan untuk mencari tantangan yang lebih besar, bisa karena alasan keluarga maupun alasan-alasan lainnya. Sangat terasa adanya hubungan emosional antara organisasi dengan individu sehingga pada akhirnya hubungan ini seperti hubungan antara dua individu yang saling merindu. Jadi, bukan individu saja yang berkepribadian. Organisasipun bisa berkepribadian bahkan bisa dipersonifikasikan.
Read More >>

KEPRIBADIAN KUNCI SUKSES

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 11 Aug 2015

Hampir semua orang setuju bahwa kecerdasan adalah salah satu kunci utama kesuksesan seseorang, sebagai motor kinerja. Oleh karena itu tes kecerdasan seringkali menjadi tes wajib untuk menyaring individu dan memisahkan antara yang dianggap kompeten dan tidak kompeten. Sementara tes kepribadian dianggap sebagai tes pelengkap manakala organisasi memiliki budget yang lebih besar. Bahkan ujian masuk perguruan tinggi pun biasanya hanya didasarkan pada tes kecerdasan semata tanpa penelusuran mendalam terhadap apakah kepribadiannya akan cocok dengan jenis pekerjaan yang diwakili oleh bidang studi tersebut. Kepribadian dianggap bisa disesuaikan di kemudian hari, selama individu memiliki kapasitas berpikir yang mumpuni untuk menyelesaikan pendidikannya. Ketika organisasi menghadapi calon karyawan dengan inteligensi yang cemerlang dengan kepribadian yang kurang sesuai, seringkali organisasi beranggapan bahwa kepribadian individu bisa diasah belakangan. “Toh orangnya bisa menurut dan bisa bekerja sama. Pasti ia juga bersedia untuk dikembangkan”. Padahal beberapa tahun mendatang ketika sudah waktunya bagi individu untuk dipromosikan kita baru menyadari bahwa inisiatif, ambisi dan kreativitas individu tetap tidak berkembang seiring dengan kecerdasannya. Bayangkan seorang pemimpin yang cerdas tetapi penakut dan selalu ragu ragu. Bukankah ia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai pemimpin?  Memang kita pernah mendengar cerita mengenai beberapa pemimpin organisasi yang sangat sukses ternyata memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata namun dengan kepribadian yang kurang "menyenangkan" bagi anak buahnya. Kelemahan kepribadian mereka diatasi oleh kecerdasannya. Namun berapa banyak populasi yang amat sangat cerdas seperti itu? Sebagian besar populasi dengan kecerdasan yang rata-rata perlu meyadari bahwa kecerdasannya akan semakin "menjual" bila ditopang dengan kepribadian yang tepat. Kekuatan seseorang dalam pelayanan pelanggan dan bekerja tim, menentukan sebagian besar kesuksesannya. Kepribadian bukan sekedar style, preferensi, atau ciri-ciri temperamen seseorang. Kepribadian bisa menjadi peluru ampuh atau malah menjadi penghambat kesuksesan karir seseorang bilamana tidak disadari oleh individu. Untuk memanfaatkan kekuatan pribadi, seseorang harus dengan jujur dan tulus mengenal pribadinya sendiri, menerima kekuatan dan kelemahannya lalu mengotak-atiknya. Banyak cara yang bisa ditempuh oleh seseorang untuk mengenal dirinya sendiri. Bisa melalui atasan, mentor ataupun rekan kerjanya. Bisa dibantu dengan sistem umpan balik 360 derajat ataupun hasil observasi obyektif dari kegiatan sehari hari. Prof Robert Hogan menggambarkan kepribadian sesorang pada pekerjaan dalam 3 bagian yang saling terkait. Yang pertama adalah the Bright Side, kepribadian yang menunjang karirnya. Bagian kedua adalah the Dark Side yang menggambarkan reaksi  yang cenderung  muncul ketika seseorang mengalami kesulitan atau konflik. Sementara bagian yang ketiga lebih menggambarkan nilai-nilai yang dipentingkan individu dalam berkarir yang dapat memotivasi dia untuk semakin berprestasi
Read More >>