<meta http-equiv="refresh" content="1; URL=http://www.experdfresh.com/noscript.html">

LATEST JOB SHOW DATABANK

JOBS ADVERTISEMENT
ADMIN ASSISSTANT
Diploma 3
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
DCS SPECIALIST
Bachelor
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
E&I SUPERVISOR
Bachelor
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
ELECTRICAL ENGINEER
Bachelor
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
GEO CHEMIST
Diploma 3
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
HR SUPERVISOR
Bachelor
Sarulla Operations Ltd
Sumatera Utara
09-Sep-15
Product Specialist
Diploma 3
PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
CRO Industrial Project
Diploma 3
PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
CRO PLN Project

PT. Pura Mayungan
DKI Jakarta
30-Sep-15
Indutrial Relation Manager
Bachelor
PT. GAC Samudra Logistics
all
05-Sep-15

DATABANK

JOBS ADVERTISEMENT
Sales & Marketing (SLS/MKT)
High School

all
16-Mar-16
Frontliner (FO)
Diploma 3

all
16-Mar-16

POLLING

AYO KERJA

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 24 Aug 2015

Berbagai tindakan strategis tampak diupayakan oleh pemerintah untuk mendorong perbaikan. Mulai dari memberi arahan, blusukan sampai kepada reshuffle kabinet yang baru-baru ini dilakukan. Namun tampaknya perubahan yang diharapkan tak kunjung terasa.  Dalam pelaksanaannya  masih banyak hal yang belum, atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Kita sadar bahwa di balik ajakan “Ayo kerja” yang cukup gamblang, kondisi lapangan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Namun apakah fakta-fakta tersebut bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa? Kita jadi bertanya-tanya, mengapa perubahan demikian lambat? Apakah kondisi lapangan yang demikian kompleks bagaikan benang kusut membuat para pelaksana seperti mengalami learned helplessness? Kita juga melihat hal serupa di organisasi-organisasi yang sudah lama berdiri. Ketika organisasi baru seperti start-ups mampu menembus persaingan dan melesat maju, perusahaan-perusahaan lama yang sudah memiliki jajaran manajemen yang ahli dan berpengalaman malah seperti jalan di tempat. Apakah ini berarti bahwa tidak setiap lapisan manajemen tahu apa yang dikerjakan dan mau mengerjakannya dengan cepat dan tepat? Apakah manajemen puncak hanya bisa terkaget-kaget pada saat hari evaluasi tiba dan ternyata rapor merah yang didapat?  
Read More >>

KEPRIBADIAN ORGANISASI

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 18 Aug 2015

Beberapa waktu lalu di berbagai jejaring sosial, kita menyaksikan wajah-wajah gembira peserta reuni akbar sebuah bank internasional terbesar. Meskipun banyak di antara peserta reuni tersebut mungkin bahkan sudah bekerja di bank lain yang notabene merupakan kompetitornya, namun masih terbersit rasa cinta terhadap organisasi yang membesarkannya itu. Momentum reuni bisa jadi disamakan dengan cinta lama bersemi kembali (CLBK). Kita banyak merasa adanya ikatan emosional dan tidak tahu penyebab yang membuat kita tidak bisa melupakan institusi tersebut, lepas dari alasan yang membuat sesorang harus meninggalkan organisasinya; yang bisa karena hubungan yang sudah tidak harmonis lagi, bisa karena kebutuhan untuk mencari tantangan yang lebih besar, bisa karena alasan keluarga maupun alasan-alasan lainnya. Sangat terasa adanya hubungan emosional antara organisasi dengan individu sehingga pada akhirnya hubungan ini seperti hubungan antara dua individu yang saling merindu. Jadi, bukan individu saja yang berkepribadian. Organisasipun bisa berkepribadian bahkan bisa dipersonifikasikan.
Read More >>

KEPRIBADIAN KUNCI SUKSES

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 11 Aug 2015

Hampir semua orang setuju bahwa kecerdasan adalah salah satu kunci utama kesuksesan seseorang, sebagai motor kinerja. Oleh karena itu tes kecerdasan seringkali menjadi tes wajib untuk menyaring individu dan memisahkan antara yang dianggap kompeten dan tidak kompeten. Sementara tes kepribadian dianggap sebagai tes pelengkap manakala organisasi memiliki budget yang lebih besar. Bahkan ujian masuk perguruan tinggi pun biasanya hanya didasarkan pada tes kecerdasan semata tanpa penelusuran mendalam terhadap apakah kepribadiannya akan cocok dengan jenis pekerjaan yang diwakili oleh bidang studi tersebut. Kepribadian dianggap bisa disesuaikan di kemudian hari, selama individu memiliki kapasitas berpikir yang mumpuni untuk menyelesaikan pendidikannya. Ketika organisasi menghadapi calon karyawan dengan inteligensi yang cemerlang dengan kepribadian yang kurang sesuai, seringkali organisasi beranggapan bahwa kepribadian individu bisa diasah belakangan. “Toh orangnya bisa menurut dan bisa bekerja sama. Pasti ia juga bersedia untuk dikembangkan”. Padahal beberapa tahun mendatang ketika sudah waktunya bagi individu untuk dipromosikan kita baru menyadari bahwa inisiatif, ambisi dan kreativitas individu tetap tidak berkembang seiring dengan kecerdasannya. Bayangkan seorang pemimpin yang cerdas tetapi penakut dan selalu ragu ragu. Bukankah ia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai pemimpin?  Memang kita pernah mendengar cerita mengenai beberapa pemimpin organisasi yang sangat sukses ternyata memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata namun dengan kepribadian yang kurang "menyenangkan" bagi anak buahnya. Kelemahan kepribadian mereka diatasi oleh kecerdasannya. Namun berapa banyak populasi yang amat sangat cerdas seperti itu? Sebagian besar populasi dengan kecerdasan yang rata-rata perlu meyadari bahwa kecerdasannya akan semakin "menjual" bila ditopang dengan kepribadian yang tepat. Kekuatan seseorang dalam pelayanan pelanggan dan bekerja tim, menentukan sebagian besar kesuksesannya. Kepribadian bukan sekedar style, preferensi, atau ciri-ciri temperamen seseorang. Kepribadian bisa menjadi peluru ampuh atau malah menjadi penghambat kesuksesan karir seseorang bilamana tidak disadari oleh individu. Untuk memanfaatkan kekuatan pribadi, seseorang harus dengan jujur dan tulus mengenal pribadinya sendiri, menerima kekuatan dan kelemahannya lalu mengotak-atiknya. Banyak cara yang bisa ditempuh oleh seseorang untuk mengenal dirinya sendiri. Bisa melalui atasan, mentor ataupun rekan kerjanya. Bisa dibantu dengan sistem umpan balik 360 derajat ataupun hasil observasi obyektif dari kegiatan sehari hari. Prof Robert Hogan menggambarkan kepribadian sesorang pada pekerjaan dalam 3 bagian yang saling terkait. Yang pertama adalah the Bright Side, kepribadian yang menunjang karirnya. Bagian kedua adalah the Dark Side yang menggambarkan reaksi  yang cenderung  muncul ketika seseorang mengalami kesulitan atau konflik. Sementara bagian yang ketiga lebih menggambarkan nilai-nilai yang dipentingkan individu dalam berkarir yang dapat memotivasi dia untuk semakin berprestasi
Read More >>

BERSIKAP MUDA

Eileen Rachman
on 03 Aug 2015

Acara halal bihalal Experd tiba-tiba dimeriahkan oleh tamu penting, Hasnul Suhaemi mantan CEO XL Axiata. Harapannya, beliau akan menceriterakan pencapaian pribadi dan bagaimana beliau mengangkat XL menjadi mobile provider nomor 2 di Indonesia. Kumpulan slide dengan terpampang slide bertema “Menjadi Makhluk Pembelajar”, yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan akan dipresentasikan salah seorang Gen Y, secara  diam-diam kami tambah dengan judul “Belajar dari Baby Boomers”. Ternyata, tanpa persiapan, beliau langsung menyambar tema ini dan mengungkapkan 2 pertanyaan penting. Pertanyaan pertama terkait dengan tantangan mendekati krisis di negara kita, “Anda sedang di jalan tol ketika melihat asap tebal di depan. Anda tidak bisa menghindar atau mundur. Apa yang Anda lakukan: Berhenti? Berjalan pelan-pelan? Ataukah menerjang terus?“ Pilihan sikap ini menentukan apakah Anda tergolong generasi lama, baby boomers, ataukah gen Y. Umumnya, Gen Y akan menerabas dengan mengambil risiko tinggi. Sementara itu baby boomers akan memilih cara untuk berjalan lambat-lambat.  Pertanyaan kedua, “Apa perbedaan hakiki dari generasi-generasi ini?” Dalam menyikapi perubahan, ada yang memilih untuk membuat perubahan, mengantisipasi perubahan, diminta berubah, atau bahkan tidak mau berubah. Tentunya golongan yang tidak mau berubah adalah golongan yang sudah harus pensiun. Yang diminta berubah adalah generasi baby boomers. Tersisa kita, yang hidup di era millenium, untuk memilih antara membuat perubahan atau mengantisipasi perubahan. Inilah semangat genY.  Apakah ini sikap yang "baru"? Sama sekali tidak! Pada masa krisis tahun 1998 perusahaan operator seluler merasakan keterpurukan. Kebanyakan perusahaan menghentikan perkembangan, tetapi Telkomsel sama sekali tidak bersikap demikian. Mereka justru masuk ke daerah-daerah terpencil, membagikan Sim card gratis kepada pelanggan potensial, dan tetap menginvestasikan perangkat  jaringan meski berhadapan dengan kurs dolar AS yang melonjak. Hasilnya terlihat hingga sekarang. Telkomsel tidak pernah bisa dikalahkan sebagai mobile operator terdepan dengan lebih dari 100 juta pelanggan. Pilihan tindakan Telkomsel ketika itu benar-benar revolusioner, membuat hal yang "beda". Apakah Telkomsel saat itu dipimpin oleh seorang gen Y? CEO Telkomsel pertama tahun 1995-1998 adalah Ibu Koesmarihati. Meski berusia 55 tahun, sikap dan manuvernya benar-benar muda. Spirit genY inilah yang perlu diadaptasi pada masa-masa kritis seperti sekarang. Pasar berubah, keadaan politik tidak stabil, sumber daya alam habis, dan perkembangan teknologi melesat sampai kita terengah-engah mengikutinya. Bisakah kita masih mengkaji dan mengkaji ulang ungkapan-ungkapan yang mengenang “the good old times” tanpa mengambil manfaatnya dan mengkaitkannya dengan keadaan masa kini?  Sejarah memang penting untuk dipelajari, tetapi bukan disawang-sawang, dikenang-kenang, bahkan diratapi. Kami di Experd, yang menginjak usia 27 tahun, merasa terbangun untuk segera menjadi perubahan itu sendiri. Apalagi saat anggota tim termuda kami Ranggih Wukiranuttama mengatakan bahwa ia ingin menggambar visi Experd 5 tahun ke depan, tapi nyatanya visi itu sulit juga digambarkan secara gamblang karena perubahan yang begitu cepat terjadi. Yang jelas, ungkap Ranggih, kita harus siap dengan membuat produk dan servis baru dan segar sehingga tidak pernah berada di posisi belakang, selalu maju dan menjadi pionir dalam teknologi pengembangan SDM.  Dengan kata lain, kitalah yang  harus "muda" terus. Adakah pilihan untuk bersikap lain, kecuali menjaga keremajaan kita atau perusahaan? 
Read More >>