<meta http-equiv="refresh" content="1; URL=http://jobs.experd.com/noscript.html">

LATEST JOB

JOBS ADVERTISEMENT
Operations Contract & Procurement Team Leader
Bachelor
PHE ONWJ
DKI Jakarta
03-Feb-15
ENGINEER DEVELOPMENT PROGRAM (EDP)
Bachelor
Tamaris Hydro
Jakarta
06-Jan-15
STORE SUPERVISOR
Diploma 3
PT. Veneta Indonesia
Jakarta,Sumatera Selatan
03-Dec-14
MARKETING COMMUNICATION OFFICER (MKT-EXP)
Bachelor
EXPERD CONSULTANT
Jakarta
01-Dec-14
Finance Staff (Intern)
Diploma 3
Decorous Contract
Jakarta
30-Nov-14
Recruitment & Assessment Officer
Bachelor
BNI Syariah
Jakarta
24-Oct-14
FINANCE STAFF (FIN - EXP)
Diploma 3
EXPERD CONSULTANT
Jakarta
20-Oct-14
Admin Staff (ADM - DSN)
Non Formal
Decorous Contract
Jakarta
20-Oct-14
Product Consultant - Sales (PC - DSN)
Bachelor
Decorous Contract
Jakarta
20-Oct-14

JOBS ANNOUNCEMENT

POLLING

TEGUR SAPA

Eileen Rachman
on 30 Jan 2015

Dalam banyak organisasi, kita menemui kinerja yang luar biasa. Banyak individu sudah menerapkan customer service dengan penuh dedikasi tinggi melalui proses serta sikap yang sungguh profesional.  Banyak juga organisasi telah berstandar tinggi, baik dalam integritas maupun produk yang dihasilkan. Sementara di tempat lain, visi misi mulia yang ditetapkan oleh para founding fathers menjadi sebuah coretan di atas kertas belaka. Karyawan bergerak sendiri tanpa arah, pimpinan berjibaku berusaha memenuhi target finansial yang dicanangkan, sambil mengeluhkan sikap dan kompetensi anak buahnya yang tidak mumpuni. Namun mereka tidak kuasa melakukan apa-apa karena sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas saat ini.   Kita juga melihat banyak organisasi yang sukses, tetapi keluhan terhadap atasan tetap berkumandang. Bila ditelaah lebih jauh lagi, kita dapat membaca bahwa suasana organisasi bukanlah “tidak menyenangkan”, tetapi juga tidak dirasakan merangsang produktivitas. Remunerasi sebenarnya tidak dikeluhkan, bahkan mungkin termasuk 10 besar di kelasnya, namun atmosfer ‘dingin’ sungguh terasa ketika kita masuk ke dalam.  Contohnya, ada individu  yang sulit bekerja sama, bahkan berbuat salah cenderung,  didiamkan saja. Kemudian individu yang jelas-jelas tidak berprestasi sampai bertahun – tahun masih tetap berada di zona nyamannya dan menerima gaji setiap bulan karena atasan tidak berani menegur, alih-alih mendera. Anak buah yang tidak peduli pada kedisiplinan malahan disegani oleh kawan kawannya dan menjadi populer. Laporan-laporan, yang biasanya dikemas bernada positif, tidak dibicarakan dan dimanfaatkan untuk membuat perbaikan.  Sebenarnya, komunikasi bukannya tidak ada, karena semua keputusan dan konsekuensi dibicarakan, dikomentari,  bahkan  terkadang dicemooh. Jadi apa yang hilang? Apa yang menyebabkan suasana tidak menumbuhkan semangat  terlebih untuk berinspirasi dan beraspirasi?=
Read More >>

BELAJAR

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 21 Jan 2015

Faham bahwa satu-satunya yang pasti adalah perubahan, sudah dipahami semua orang . Situasi inipun pasti  membawa dampak juga pada proses pembelajaran.  Lihat saja betapa , anak berusia prasekolah menguasai komputer. Di perusahaan, kalau  dulu orang cukup dikirim untuk kursus, atau bersekolah lebih lanjut, sekarang korporasi sudah membuat universitas, membuat segala macam upaya untuk memasukkan pembelajaran ke para karyawannya.  Belum lagi, pengetahuan juga berkembang pesat. Apa yang kita pelajari sekarang, belum tentu valid untuk digunakan di masa mendatang. Karenanya manusia, mau tidak mau ,  harus senantiasa belajar terus,  meskipun ia sudah tidak lagi duduk di bangku sekolah. Kegiatan belajar yang dibangun oleh civitas akademika memang penting, namun kegiatan belajar perlu digalakkan ‘on the job’ , berupa ‘life long learning’, dengan metode yang lebih holistik dan terap untuk dimanfaatkan dalam pekerjaannya sehari – hari. Seperti yang dinyatakan oleh pakar pendidikan di dunia kerja, Peter Lassey (1998) mereka yang sukses hanyalah  mereka yang belajar secara  terus menerus. Demikian juga hal-nya dengan organisasi; organisasi yang sukses adalah organisasi pembelajar, karena tanpa belajar tidak akan ada perbaikan dan tanpa perbaikan,  organisasi akan stagnan.  Seorang CEO pernah mengungkapkan , bahwa masalah dalam mempelajari sesuatu adalah bahwa orang sering tidak belajar sampai ke ‘marifat’ nya, alias ‘insight’nya, ‘aha’ nya, dan bahkan pencerahan  ilmunya.  Jaman dahulu belajar memang banyak diasumsikan sebagai pengumpulan fakta-fakta dan penumpukan pengetahuan , sehingga metode pembelajaran banyak diarahkan pada hal ini saja, yakni , satu arah.  Belajar sekarang , bukanlah sekedar menghapalkan fakta – fakta dan rumus rumus, melainkan perlu sampai pada penarikan kesimpulan, bahkan imajinasi  mengenai implementasinya. Menurut pakar psikologi Edward Thorndike dan B.F. Skinner, gaya pembelajar juga sangat berpengaruh . Sekarang harus ada upaya  si pembelajar untuk  mengeksplorasi lingkungan dan belajar lewat pengalaman. Koneksi yang dibuat oleh pembelajar dari ide – ide yang ditangkapnya melalui proses ‘belajar melalui pengalaman’ akan membuat pengetahuan menempel lebih lama dan menetap ketimbang  bilamana ‘disuapi’ semata oleh pendidik.  Belajar, karenanya merupakan proses ‘sense making’ yang berkesinambungan meliputi proses berpikir, menganalisa yang melibatkan keseluruhan indera serta memori kita.    
Read More >>

CURI START

Eileen Rachman & Emilia Jakob
on 12 Jan 2015

Keriaan dan kebahagiaan hari wisuda hanya akan berlangsung sehari. Perayaan sesungguhnya akan keberhasilan kita dalam menempuh pendidikan, meraih prestasi, bukan dibuktikan melalui kemewahan gedung wisuda maupun kebesaran seragam toganya, namun ditunjukkan dalam seberapa cepat kita dapat berkarya dan meraih prestasi di kehidupan nyata. Jadi bagi adik-adik yang sedang berada dalam euforia selesainya menempuh pendidikan,  kita perlu menanamkan mindset bahwa kehidupan karir yang sesungguhnya baru dimulai. 
Read More >>

DARI KAMPUS KE KORPORASI

Eileen Rachman
on 29 Dec 2014

Masih ingat masa masa pasca kelulusan dan memasuki dunia kerja? Banyak orang mempunyai pengalaman yang unik. Tetapi kebanyakan dari kita pasti yakin bahwa dunia kerja memang berbeda dengan dunia kampus. Ada beberapa lulusan yang langsung stres dengan tuntutan atasan, peraturan perusahaan , yang seolah membatasi kebebasannya berkreasi dan bergerak. Sementara si atasan di perusahaan juga melihat para “fresh grad” seperti mahluk dari dunia lain, beridentitas ‘gen Y’ , dan tiba tiba mulai berkeluh kesah mengenai perbedaan generasi. Jadi sebenarnya jurang antara kampus dan korporasi itu memang nyata masih cukup dalam. Bukan saja para “fresh grad” yang setres, ternyata pihak atasanpun mengalami kesulitan. Kita lihat saja , perbedaan yang nyata, yaitu dalam soal pemanfaatan waktu.  Ada yang terkejut karena tiba tiba tidak perlu membawa ‘pe er’ lagi ke rumah, seperti jaman kuliah. Sebaliknya ada yang tidak terbiasa dengan bekerja terus menerus sepanjang tahun tanpa libur semester, akhir tahun yang panjang. Kitapun tahu bahwa ‘deadline’ tidak bisa diperlakukan  sembarangan.  Keketatan penggunaan waktu, dan perencanaan di tempat kerja juga berbeda gaya. 
Read More >>